
Loyalitas Simpatisan Partai Demokrat Rendah
Sebagian Berencana Memilih Partai Lain
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO / Kompas Images
Rabu, 16 Juli 2008 | 03:00 WIB
Jakarta, Kompas - Loyalitas pemilih Partai Demokrat pada Pemilu 2004 paling rendah di antara pemilih partai politik besar dan parpol menengah lainnya. Sebanyak 47,6 persen pemilih Partai Demokrat pada pemilu lalu juga belum menentukan pilihan parpolnya untuk Pemilu 2009.
Demikian hasil survei ”Perilaku Pemilih Indonesia 2008” yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang diumumkan di Jakarta, Selasa (15/7). Hadir dalam peluncuran hasil survei itu Direktur Eksekutif CSIS Hadi Soesastro, Wakil Direktur Eksekutif CSIS Rizal Sukma, serta peneliti dari Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Indra J Piliang dan Nico TB Harjanto.
Survei dilakukan pada 11-17 Mei terhadap 3.000 responden yang tersebar di 13 provinsi dengan jumlah kursi terbanyak dan DI Yogyakarta. Sedangkan daerah yang disurvei di setiap provinsi itu adalah daerah pemilihan dan kabupaten/kota terpadat.
Persentase pemilih Partai Demokrat pada pemilu lalu yang akan memilih kembali partai itu pada pemilu mendatang hanya 18,7 persen. Sisanya berencana akan memilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 10,5 persen, Partai Golkar 8,6 persen, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 5,6 persen.
Loyalitas pemilih yang ditunjukkan dengan ketetapan untuk memilih parpol yang sama di pemilu mendatang dimiliki pemilih PKS 75,4 persen, Partai Golkar 61 persen, dan PDI-P 55,1 persen.
Simpatisan parpol lain yang cukup loyal adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 48,5 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 32 persen, dan Partai Amanat Nasional (PAN) 31 persen.
Menurut Nico, jumlah simpatisan Partai Demokrat yang belum menentukan pilihan juga paling tinggi di antara parpol lain. Ini menunjukkan para pemilih Partai Demokrat pada pemilu lalu masih bimbang apakah Partai Demokrat layak dipilih kembali.
”Partai Demokrat sepertinya hanya fenomena sesaat karena loyalitas pendukungnya paling rendah,” ungkap Nico.
Meski demikian, rendahnya tingkat loyalitas ini tidak mengindikasikan besarnya jumlah suara dukungan parpol. Sebab, masih ada peluang adanya aliran suara dari pemilih parpol lain dalam pemilu lalu.
Namun, jika pemungutan suara dilakukan pada saat survei, sebagian besar responden menyatakan tidak tahu, yakni sebesar 30 persen. Parpol yang banyak dipilih adalah PDI-P 20,3 persen, Partai Golkar (18,1), PKS (11,8), PKB (6,8), dan Partai Demokrat (5,2). Sedangkan yang memilih PPP dan PAN masing-masing 2,7 persen dan 1,7 persen.
Urutan tiga besar parpol hasil survei CSIS ini berbeda dari penelitian sejumlah lembaga survei lain yang menempatkan PDI-P, Partai Golkar, dan Partai Demokrat dalam urutan tiga besar.
Popularitas Yudhoyono
Kondisi ini juga terjadi dalam pilihan calon presiden. Jika pemungutan suara dilakukan saat survei, 24 persen responden belum memilih calonnya.
Mereka yang memilih menjatuhkan pilihannya pada Megawati Soekarnoputri (23,2), Susilo Bambang Yudhoyono (14,7), Sultan Hamengku Buwono X (8,8).
Menurunnya popularitas Yudhoyono, lanjut Nico, terus berlanjut seiring semakin rendahnya penilaian masyarakat atas kinerja Yudhoyono, terutama untuk isu kesejahteraan rakyat. Yudhoyono dianggap gagal melaksanakan janji kampanye dan menyejahterakan masyarakat. Ia hanya dianggap berhasil dalam menjaga persatuan bangsa.
Indra mengatakan, popularitas parpol sangat ditentukan oleh popularitas tokohnya. Karena itu, penurunan popularitas Yudhoyono pasti akan berimbas kepada Partai Demokrat. Hal serupa terjadi pada Partai Golkar.
”Selama Golkar tetap jadi bagian dari pemerintah, penurunan tingkat pilihan masyarakat akan terseret seiring makin rendahnya apresiasi masyarakat atas kinerja pemerintah,” katanya. (MZW)
sumber:www.cetak.kompas.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar